Selasa, 20 Oktober 2015
Perkembangan menurut perspektif islam
PSIKOLOGI UNTUK SEMUA KEBAIKAN
Referensi Bacaan Yang Berkaitan Dengan Ilmu Psikologi Untuk Kebaikan Manusia dan Aplikasinya Dalam Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 23 Agustus 2012
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN MENURUT ISLAM
Definisi
Psikologi perkembangan menurut Islam memiliki kesamaan objek studi dengan psikologi perkembangan pada umumnya, yaitu proses pertumbuhan dan perubahan manusia. jika psikologi perkembangan membatasi penelitiannya dari konsepsi sampai kematian, maka melalui studi literatur keagamaan, dapat memperluas ruang lingkup penelitiannya pada kehidupan yang bersifat transedental, termasuk kehidupan setelah mati. Juga secara fundamental memandang manusia sesuai dengan citranya sebagai khalifah Allah di muka bumi, seperti yang diterangkan dalam Alquran dan hadist. Jadi psikologi perkembangan menurut Islam merupakan kajian atas proses pertumbuhan dan perubahan manusia yang menjadikan Alquran dan Hadist sebagai landasan berpikirnya.
Prinsip Dasar Psikologi Perkembangan Dari Perpektif Islam Terdiri Dari
1. Kehidupan Manusia (Pertumbuhan & Perkembangan) Merupakan Proses Yang Bertahap Dan Berangsur-Angsur
Ketika menyatakan bahwa Allah adalah Maha Pencipta, Maha Penjaga dan Maha Pemelihara segala sesuatu, Alquran juga mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari berbagai tahap progresif pertumbuhan dan perkembangan. Dengan kata lain, kehidupan manusia memiliki pola dalam tahapan-tahapan tertentu yang termasuk tahapan dari pembuahan sampai kematian. Tahapan yang tertjadi dalam pertumbuan dan perkembangannya bukan karena suatu kebetulan namun merupakan sesuatu yang telah dirancang, ditentukan dan ditetapkan langsung oleh Allah. Banyak ayat Alquran yanmg menyatakan hal ini. Salah satunya sebagai berikut:
... dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan segalanya dengan ukuran-ukuran dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqaan 25:2)
pertumbuhan & perkembangan manusia tidak terjadi serta merta dalam satu waktu, namun melalui tahapan yang telah ditentukan ukurannya yang membuatnya berjalan dalam proses yang berangsur-angsur atau gradual. Ayat berikut ini dengan jelas menyatakan bahwa manusia diciptakan dan ditentukan untuk berkembang dalam tahapan.
Mengapa kamu tidak percaya kepada kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. Nuh 71:13-14)
Ibn Kastir melaporkan bahwa Abdullah Ibn Abbass dan lain-lain menrjemahkan ayat ini dalam pengertian bahwa manusia tumbuh dari satu keadaan ke keadaan lain sedemikian rupa, menjadi kana-kanak setelah bayi, menjadi tua setelah muda dan kuat.
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa manusia tumbuh dan berkembang mengikuti tahapan tertentu. Tahapan ini secara khusus dinyatakan dalam berbagai ayat Alquran yang lain dengan cara yang lebih rinci. Selain itu Nabi Muhammad saw. Juga menyatakan tahapan ini lebih lanjut dalam beberapa hadist. Jika dianalisis, Alquran dan Hadist secara umum membagi kehidupan manusia (pertumbuhan dan perkembanagan) di dunia menjadi kategori besar, prakelahiran dan pascakelahiran. Masing-masing tahapan ini juga dap;at dibagi atas berbagai bagian lagi dengan istilah dan periode yang berbeda-beda. Banyak ayat Alquran yang secara substansi cukup rinci membahas tentang tahapan kehidupan manusia di dunia. Meski dalam beberapa ayat yang lain hanya menggambarkan tahap pertama kehidupan manusia, yaitu tahapan prakelahiran. Salah satu contohnya adalah ayat Alquran berikut ini:
...Dia menjadikanmu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempuanyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka bagaimana kaamu dapat dipalingkan? (QS Al-Zumar 39:6)
Selain itu, berbagai ayat Alquran juga menggambarkan kedua tahap (prakelahiran dan pascakelahiran) dengan cara yang sangat jelas:
Dialah yang menciptakanmu dari tanah kemudian dari tetesan (nutfah), sesudah itu dari segumpal darah (alaqah); kemudian dilahirkan-Nya kamu tumbuh kepada masa (dewasa yang penuh kekuatan); kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, diantara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu, Kami perbuat demikian supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahaminya. (QS Al-Mu’min 40:67)
Alquran juga menyatakan bahwa tahap pertama memiliki aturan dan waktu yang ditentukan untuk mencapai tugas perkembangannya. Setelah itu tahap pertama ini terputus dengan adanya kelahiran (melalui persalinan). Hal ini terlihat dalam petikan ayat berikut:
... dan Kami tetapkan dalam rahim siapa yang kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan... (QS Al-Hajj 22:5)
Ayat tersebut dalam kutipan yang lebih lengkap terlihat membagi dua tahapan besar perkembangan manusia, ayat tersebut berbunyi:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, maka ketahuilah sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari tanah (turab), kemudian dari tetesan (nutfah), kemudian segumpal darah (alaqah), kemudian dari struktur daging (mudgah) yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar kami jelaskan padamu, dan Kami tetapkan dalam rahim siapa yang Kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian berangsur-angsur kamu menjadi dewasa, dan diantara kamu yang diwafatkan dan adapula yang diperpanjang umurnya sampai pikun, supaya tidak diketahui lagi sesuatu yang dulu diketahuinya... (QS Al-Hajj 22:5)
Selain itu Nabi Muhammad Saw. Juga memberi hadist yang secara akurat menggambarkan tahap pertama dengan menyebutkan waktu perkembangannya, sebagaimana berikut ini:
“dari Abi Abd Rahman Abdillah Ibn Masud r.a berkata: Rasullah mengatakan kepada kami, kejadiannya sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan pada perut ibumu selama 40 hari berupa tetesan (nutfah), kemudian menjadi segumpal darah (alaqah) dalam waktu yang sama, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) juga dalam waktu yang sama. Sesudah itu malaikat diutus untuk meniupkan ruh kepadanya dan diutus untuk melakukan pencatatan empat kalimat, yaitu mencatat rizkinya, usia, amal perbuatan, dan celaka atau bahagianya.” (HR Muslim)
Gejala, bentuik, ukuran, dan waktu dimana individu diciptakan dan dibentuk dalam rahim dapat berbeda-beda sesuai keinginan dan perintah Allah. Segalanya sesuai takdir Allah.
Dialah yang membentuk kami dalam rahim sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Imran 3:6)
Alquran menyatakan, sebagaimana petikan QS Al-Hajj 22:5 diatas, bahwa periode prakelahiran telah ditentukan (biasanya 9 bulan dalam keadaan normal seperti dinyatakan di hadist lainnya). Namun Alquran juga menyebutkan bahwa ada kasus-kasus pengecualian dimana periode pra kelahiran dihentikan, sebelum atau setelah waktu yang normal. Dalam Alquran menyatakan:
Allah mengetahui apa yang dikandung setiap perempuan, dan kandungan reahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu padaa sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui segala yang ghaib dan yang tampak; Yang Maha Besar Lagi Maha Tinggi. (QS Al-Ra’d 13:8-9)
Dengan demikian Allah menyatakan bahwa beberapa persalinan kehamilan dapat terjadi sebelum atau setelah waktu persalinan yang normal, namun keputusan penambahan atau pengurangan waktu merupakan kewenangan Allah.
Untuk pertumbuhan dan perkembangan setelah kelahiran, Alquran tidak menyatakan dengan pasti rentang kehidupan yang dapat diterapkan pada semua individu, karena hal tersebut berbeda antar individu. Sehubungan hal ini Alquran menyatakan:
... kemudian (dengan berangsur-angsur) kami sampailah kepada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan adapula diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun... (QS Al-Hajj 22:5)
Namun, jika periode pasca kelahiran diamati secara umum, ulama Islam membaginya atas empat tahapan besar, yang masing-masing dibagi-bagi lagi dalam tahapan yang lebih kecil.
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikanmu seseudah lemah itu menjadi kuat, kemudian menjadi lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Kuasa. (QS Al-Ruum 30:54).
2. Pertumbuhan & Perkembangan Manusia Memiliki Pola Tertentu
Menurut Alquran pertumbuhan dab perkembangan manusia memiliki pola umum yang dapat diterapkan pada manusia, meskipun terdapat perbedaan individual. Pola yang terjadi adalah bahwa setiap individu tumbuh dari keadaan lemah menuju keadaan yang kuat dan kemudian kembali melemah. Dengan kata lain, pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan hukum alam, ada kenaikan dan penurunan.
Ketika seseorang secara berangsur-angsurmencapai puncak perkembangannya, baik fisik maupun kognitif, dia mulai menurun berangsur-angsur. Alquran menyatakan sebagai berikut:
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikanmu seseudah lemah itu menjadi kuat, kemudian menjadi lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Kuasa. (QS Al-Ruum 30:54).
Allah menciptaka kamu, kemudian mewafatkan kamu, dan diantara kamu ada yang dikembalikanpada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui segala sesuatunya yang pernah dia ketahui. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nahl 16:70)
Dengan demikian terlihat bahwa pola yang disebutkan dalam ayat ini dapat diterpkan pada semua manusia. semua manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Hal ini mengacu pada tahap pertama penciptaanmanusia di dalam rahim sampai persalinan. Manusia sangat lemah dalam tahap awal ini, baik secara fisik maupun mental. Lemahnya manusia pada awal kehidupan ini juga mencakup pada lemahnya keadaan mental seseorang sebagaimana dinyatakan berikut ini:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS Al-Nahl 16:78)
Dalam ayat-ayat lainnya dinyatakan dengan jelas pola keadaan lemah merupakan karakter pertama dari seluruh awal kehidupan manusia, dan kemudian menguatdalam perkembangan selanjutnya. Misalnya:
Kami peintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya: ibunya mengandung dengan keadaan susahpayah, dan melahirkannya dengan susaah payah juga, mengandunganya samp[ai menyapihnya adalah selama tiga puluh bulan. Sehingga apabila ia telah dewasa (usia dengan kekuatan penuh) dan umurnya saampai empat puluh tahun ia akan berdoa: “Ya Tuhaku, tunjukilah untuk mensyukuri nikmat engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku... (QS Al-Ahqaf 46:15).
Deduksi analogik yang dapat dibuat dari ayat ini adalah masing-masing kehidupan manusia dimulai dengan keadaan lemah, berangsur-angsur mencapai puncak kekuatan dan berang-angsur pula menuju menurun, seperti yang terkandung dalam ayat sebelumnya. Penurunan merupakan dimensi kedua dari keadaan lemah yang menandai kehidupan manusia pada akhir kehidupannya. Hal ini juga dinyatakan dalam ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya. Pola ini terlihat berlaku umum pada semua manusia sehari-hari.
Prinsip ini harus dicatat, tidak menghilangkan fakta perbedaan individual. Artinya walaupun pola ini terjadi pada setiap manusia, selalu ada perbedaan antar individu dalam hal variabel dan proses perkembangan spesifik. Sebagai gambaran, dapat dilihat dua orang lkembar identik yang lahir pada saat bersamaan. Prinsip ini dapat diterapkan pada keduanya dalam pengertian mereka lahir dalam keadaan tidah berdaya, lemah, manusia yang masih kecil, dan kemudian keduanya berangsur-angsur tumbuh dan memperoleh kekuatan. Namun yang satu dapat saja memliki kulit lebih gelap dari lainnya. Atau yang satu lebih gemuk, hal ini merupakan bentuk perbedaan individual. Namun hal ini tidak dapat menghilangkan fakta bahwa adanya prinsip pola perkembangan yang bersifat umum.
3. Perkembangan Manusia Adalah Proses Kumulatif & Simultan
Jika setiap ayat Al-quran yang membicarakan perkembangan manusia dan tahap-tahapnya dibahas secara seksama, disintesis dan dianalisis, akan terlihat bahwa Alquran menyatakan postulat bahwa perkembangan manusia secara alamiah bersifat kumulatif. Dengan kata lain, setiap perkembangan baru yang dicapai merupakan penambahan dari perkembangan sebelumnya. Dengan cara ini, perkembangan meningkatkan satu aspek dengan dasar peningkatan sebelunya sampai pencapaian tahap puncak.
Banyak ayat-ayat yang menyatakan perkembangan berkaitan pada segala aspek-aspeknya, baik secara eksplisit maupun implisit. Namun aspek fisik dan kognitif merupakan asspek yang secara eksplisit dinyatakan berhubungan satu sama lainnya dalam berbagai ayat Alquran.
Dilihat dari Alquran yang mengacu pada pemberian kekayaan kepada anak yatim ketika mereka mencapai “kekuatan penuh”. Makna ayat ini mencakup perkembangan fisik dan mental. Jika perkembangan fisik dinyatakan dalam ayat ini dengan kata “kekuatan” yang menunjukan bentuk dan postur tubuh, komponen mental dengan jelass dinyatakan dalam Alquran berikut:
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin: jika menurutmu mereka telah cerdas, maka serahkanlah mereka harta-hartanya; dan janganlah kamu memakan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan jangan kamu tergesa-gesa membelanjakannya sebelum mereka dewasa...(QS An-Nisa’ 4:6)
Namun Alquran juga menunjukan fakta bahwa beberapa aspek dapat berkembang lebih cepat dari lainnya, sehingga menghasilkan perbedaan intraindividual dalam perkembangan. Misalnya perkembangan fisik seseorang dapat lebih cepat dari perkembangan mentalnya atau sebaliknya. Alquran juga menunjukan faktor retardasi mental. Dalam situasi ini, individu dapat tumbuh dan berkembang secara fisik, namun pertumbuhan dan perkembangan mental tidak berjalan beriringan. Alquran menyatakannya dalam ayat tentang kontrak utang:
Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah keadaanya atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur... (QS Al-Baqarah 2:282).
Banyak ayat lain yang menyebutkan berbagai perkembangan mental yang abnormal. Bentuk lain dari perkembangan abnormal juga dinyatakan dala ayat lain yang berkaiatan dengan perkembangan bahasa yang abnormal, yang menyebabkan kesulitan berbicara. Dalam gambaran parabolik dan euphemistik dari orang-orang kafir, faktor ini dinyatakan, seperti berikut:
Dan Allah membuat pula perumpamaan: dua lelaki yang satu bisu, tidak bisa berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggunya, kemana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun, dan dia berada pula di jalan lurus? (QS An-Nahl 16:76)
Hal ini dapat diterima dalam prinsip ‘Ilmu Ushul fiqih”. Dimana mengkonfirmasikan bahwa abnormalitas mempengaruhi berbagai aspek perkembangan manusia, sebagaimana dapat mempengaruhi keseluruhan perkembangan.
4. Pertumbuhan & Perkembangan Manusia: Melampaui Keberadaan Fenomena Dunia
Jika teori-teori dalam psikologi modern hanya mencakup kehidupan duniawi yang sementara, Alquran memproyeksikan kehidupan manusia di atas kehidupan ini. Alquran mengkaji kehidupan saat ini sebagai dasar kehidupan lain yang lebih permanen dan kekal. Manusia akan mengalami transformasi kepada kehidupan yang lain pertumbuhan dan perkembangannya bersifat transedental dan lebih tinggi. Pertumbuhan dan perkembangan ini, bagaimanapun dapat berakhir dengan kenikmatan atau penyikasaa. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa mengapa berbagai ayat Alqiran yang menyatakan tahapan perkembangan dikaitkan langsung dengan kehidupan setelah mati. Misalnya ayat berikut menyatakan tahapan duniawi perkembangan manusia diikuti oleh ayat yang menunjukan kehidupan kemudian:
Sesungguhnya Kami telah mencipatakan manusia itu dari saripati dari tanah (sulalatin min tin). Kemudian Kami jadikan saripati tanah itu menjadi suatu tetesan (nutfah) yang tersimpan di tempat yang aman dan kokoh. Kemudian tetesan itu Kami olah menjadi segumpal darah (alaqah), dan segumpal darah itu Kami olah menjadi segumpal daging (mudhgah). Lalu mudhgah itu Kami olah menjadi tulang belulang (idham). Kemudian idham itu Kami bungkus dengan daging (lahm). Kemudian Kami jadikan makhluk yang berbentuk lain dari sebelumnya. Maha Suci Allah pencipta yang paling baik. Kemudian sesudah itu kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di hari kiamat. (QS Al-Mu’minun 23:12-16).
Dengan demikian jelaslah bahwa untuk mempelajari manusia secara komprehensif, aspek kehidupan setelah mati harus disertakan. Hal ini karena ketakutan akan kematian dan apa yang terjadi di dalamnyamerupakan bagian alamiah dari manusia dan mempengaruhi disposisi dan perkembangan manusia. Tanpa hal ini, pengetahuan kita tentang manusia akan terus tetap bersifat primitif dan parsial.
5. Pertumbuhan & Perkembangan Manusia: Melewati Periode Kritis Dan Sensitif Tertentu
Periode dan fase formatif secara esensial sangat penting karena meletakan dasar bagi perkembangan selanjutnya yang dalam hal ini seluruh periode prakelahiran, bayi , anak-anak, dan remaja dianggap sensitif.
Sensitivitas tahap prakelahiran, misalnya dapat dilihat tradisi muslim yang membiasakan diri untuk menyuarakan doa mereka, seperti yang dicontohkan Nabi, ketika mereka selesai bersenggama. Hal ini bermakna sebagai doa kepada Allah untuk memohon perlindungan pada setan dan pemberian stimulus suara. Suara disini dapat berfungsi sebagai pelindung dari segala halangan yang dapat menyebabkan retadasi dalam pertumbuhan dan perkembangan dari segala aspek kehidupan anak.
Dengan cara yang sama, Alquran menyuruh kita untuk selalu menyuarakan doa pengampunan sebelum dan selama kehamilan. Setelah itu ketika anak baru dilahirkan, suara adzan harus dikumandangkan ke telinga anak seperti yang dicontohkan Nabi. Sebenarnya perhatian utama dari ha ini adalah suara perkembangan moral anak.
Setelah kelahiran, Nabi menyuruh kita untuk berhati-hati dalam merawat anak-anak. Periode lain yang dianggap sangat kritikal dan sensitif adalah periode remaja dimana periode transisi dari anak-anak menju kedewasaan. Masa ini rentan terhadap kegairahan, kenikmatan yang mencemaskan dan godaan.
Disamping berbagai masalah yang merupakan karakteristik remaja, alasan lain mengapa periode ini merupakan periode kritis dan sensitif dalam perkembangan individual adalah masa ini merupakan masa transisi yang menandai awal dari tanggung jawab legal (taklif).
“Diangkat pena (untuk mencatat amal) dari tiga macam orang: anak kecil hingga ia pubertas (ihtilam), orang tidur hingga terjaga, dan orang gilaa hingga ia sadar”. (HR Abu Dawud, Tirmidhi, dan Hakim).
Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Dalam Perpektif Islam
1. Pengaruh Hereditas
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik sebagai berikut: Ibunya (ibu Anas) Ummi Sulaym (salah satu sahabat perempuan pada zaman Nabi) bertanya tentang perempuan yang menyaksikan mimpi basah dalam tidurnya seperti laki-laki. Dia menjawab, “Jika perempuan menyaksikan itu, ia harus mandi wajib (janabah).’’ Kemudian Ummi Salmah (isteri Nabi yang hadir) bertanya malu-malu, “Apakah itu terjadi?’’ Nabi menjawab, “Tentu saja! Bagaimana ini mendatangkan keserupaan (jika tidak terjadi)? Sperma laki-laki merupakan tetesan putih yang tebal sedangkan sel telur perempuan merupakan cairan kuning yang tipis. Manapun diantara keduannya yang mengungguli yang lainnya, hasilnya akan mempengaruhi.’’ (HR. Muslim)
Muslim meriwayatkan dari Thauban, bahwa seorang Yahudi dating dan bertanya kepada Nabi berbagai pertanyaan (sebagai usaha untuk menantang kebenaran kenabiannya). Pertanyaannya adalah tentang penentuan jenis kelamin, bagaimana terjadinya? Nabi menjawab sebagai berikut:
“Sperma pria alah putih dan sel telur perempuan kekuning-kuningan. Jika mereka bertemu (terjadi pembuahan) dan sperma pria mengungguli sel telur perempuan, hasilnya akan menjadi jenis kelamin laki-laki dengan seijin Allah, dan jika sel telur perempuan yang mengungguli sel sperma pria hasilnya akan menjadi perempuan dengan seijin Allah.’’ (HR Muslim)
Setelah nabi menjawab demikian, orang Yahudi itu mengatakan, dan dia adalah benar seorang Nabi.
Ibn Al-Qayyim menjelaskan hadist ini lebih lanjut:
“Pada saat konsepsi (pembuahan) dua hal terjadi. Maka ini adalah dominasi dan keunggulan. Dua hal itu dapat terjadi berurutan, dan dapat juga terjadi berbeda. Dalam hal ini, jika sperma laki-laki dominan dan mengungguli ovum perempuan, hasilnya akan menjadi laki-laki dan menyerupai ayahnya. Tapi jika sebaliknya, hasilnya akan menjadi perempuan dan menyerupai ibunya. Namun jika yang satu dominan tetapi lainnya mengungguli, hasilnya akan menyerupai yang mendominasinya dan jenis kelaminnya akan menjadi sama dengan yang mengunggulinya, baik laki-laki maupun.’’
Walaupun demikian Ibn Al-Qayyim, memperingatkan bahwa penentuan jenis kelamin ini (dengan segala sesuatu yang terjadi dengannya) tidak dapat dipahami sebagai hal yang semata-mata ditentukan oleh alam. Karena hal tersebut merupakan urusan yang sepenuhnya tergantung pada kehendak Allah. Itu sebabnya mengapa Rasulullah mengatakan dalam hadist lain bukti bahwa malaikat meniup roh ke dalam fetus dan bertanya kepada Allah: Wahai Tuhanku! Apakah jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan?... Kemudian Allah menentukannya sesuai kehendaknya dan malaikat mencatatnya.
Bukti tekstual menghapuskan keraguan bahwa factor herediter memiliki pengaruh. Namun keputusan atas segalanya tergantung pada Allah. Dengan demikian, herediter dapat mempengaruhi perkembangan intelektual seseorang dalam batasan tertentu.
2. Pengaruh Lingkungan
Bukti yang terkenal berkaitan dengan hal ini adalah hadist dimana Rasulullah Saw. mengatakan bagaimana orang tua mempengaruhi agama, moral, dan psikologi umum dari sosialisasi dan perkembangan anak-anak mereka. Hadist ini merupakan bukti tekstual yang paling terkenal dari pengaruh lingkungan terhadap seseorang. Hadist ini berbunyi:
“Tiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (suci membawa disposisi Islam Orang tuanyalah yang mermbuatnya Yahudi (jika mereka Yahudi), Nasrani (jika mereka Nasrani), atau Majusi (jika mereka Majusi). Seperti binatang yang lahir sempurna, adakah engkau melihat mereka terluka pada saat lahir?’’ (HR Bukhari)
Dalam hadist lain Rasulullah menunjukan bagaimana teman dapat mempengaruhi seluruh perilaku, karakter dan perbutan seseorang. Dengan memberi perumpamaan Rasulullah bersabda:
“Persamaan teman yang baik dan yang buruk seperti padagang minyak kesturi dan peniup api tukang besi. Si padagang minyak kesturi mungkin akan memberinya kepadamu atau engkau membeli kapadanya, atau setidaknya engkau dapat memperoleh bau yang harum darinya, tapi si peniup api tukang besi akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap dari padanya.’’ (HR Bukhari)
3. Pengaruh Ketentuan Allah
Terdapat bukti yang substansial yang memperlihatkan bahwa herediter dan lingkungan semata-mata tidak dengan sendirinya menentukan pola perkembangan individu; ada hal yang paling utama dalam persoalan tersebut, yaitu segalanya tergantung kehendak Allah. Contoh yang paling mencolok adalah riwayat Nabi Isa as. Ibn Maryam. Allah membuatnya dapat berbicara dalam buaiannya. Sebagaimana kita ketahui, perkembangan bahasa merupakan bagian integral dari perkembangan kognitif. Dalam situasi normal, anak mulai berbicara pada usia dua tahun sepatah dua patah kata, dan sejalan dengan itu mereka mulai mengembangkan perbendaharaan bahasa. Kenyataan bahwa Nabi Isa as. dapat berbicara pada masa buaian menunjukan kekuatan Allah. Hal ini bukan factor herediter, juga bukan produk stimulasi intelektual dari lingkungan. Hal tersebut lebih merupakan manisfestasi kebijksanaan Tuhan.alquran menceritakan kejadian ini dalam beberapa ayat. Pertama Alquran menceritakan bagaimana Maryam diberitahu bahwa anaknya kan berbicara sejak dalam buaian. Ayat ini berbunyi:
… dan dia berkata kepada manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dia adalah salah seorang diantara orang-orang yang shaleh. (QS Al-Imran 3:46)
Selain itu, untuk menceritakan kisahnya lebih lengkap Alquran menyebutkan:
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu bukanlah sekali-kali bukanlah orang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah orang yang pezina.’’ Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: ”Bagaimana kami berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?’’ Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang Nabi, dan Dia menjadikanku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) Shalat (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.’’ Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidaklah layak bagi Allah mempunyai anak. Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadaNya: “Jadilah’’, maka jadilah. (QS Maryam 19:27-35)
Dalam kajian psikologi, factor ini merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena banyak hal yang terjadi dalam kehidupan manusia yang tidak bias digolongkan ke dalam factor herediter dan lingkungan. Dengan demikian hal tersebut tidak dapat diterangkan dalam keranda penyelidikan material atau empiric.
Peran kehendak Allah dalam menentukan perkembangan individual seperti yang dinyatakan dalam pendekatan Islam akan membantu manusia memahami proses perkembangan yang lebih baik dari pendekatan Psikologi Barat dalam berbagai cara. Kasus kemampuan bicara Nabi Isa as. dan lain-lain dalam buaian merupakan kesaksian terhadap hal ini.
Manusia Sebagai Khalifah Allah
Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah Allah di bumi. Manusia diciptakan pada dasarnya sebagai suci dan beriman, juga membawa citra ketuhanan di dalam dirinya yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Dalam Alquran penciptakan manusia dinyatakan sebagai berikut ini :
Kemudian Dia menyempurnakan tubuhnya (manusia) dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruhnya…(QS Al-Sajdah 32:9)
Said Hawwa menyatakan bahwa pada awal penciptaan, ruh tahu akan Allah dan menyatakan kesediaannya untuk mengabdi dan beribadat kepada-Nya. Namun, setelah penyatuan dengan tubuh, datang sifat keterasingan dan kebuasan, sehingga pengetahuan dan penghambaanya kepada Allah dapat lenyap.
Namun, berbeda dengan berbagai makhluk lain, sebagai khalifah Allah manusia memiliki kebebasan berkehendak dibawah penentuan Allah. Walaupun pada saat yang sama manusia memiliki kebebasan terbatas untuk memilih jalan yang hendak dilaluinya. Dalam Alquran dinyatakan:
…dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-Nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaanya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya. (QS Al-Syams 91:7-10)
Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Menurut Alquran
Perbedaan individual merupakan kehendak Allah dan ditentukan melalui pembawaan hereditas dan lingkungan. Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan dan membentuk manusia dalam rahim ibunya dengan cara dan bentuk yang berbedan dan unik seperti yang diinginkanNya:
Hai manusia, apakah yang memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (QS Al-Iifithaar 82:6-8)
Dia yang membentuk kamu dalam Rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Imran 3:6)
Lebih lanjut dan dalam pernyataan yang jelas, Alquran menyatakan manusia berbeda-beda satu sama lainnya dalam sifat, karakter, perilaku dan perbuatan:
Katakanlah! Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaanya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS Al-Israa 17:84)
Ayat ini menyatakan bahwa manusia memiliki disposisi yang unik. Keunikan yang demikian dapat termanisfestasikan dalam bentuk fisik, kognitif, emosional, moral, dan karakteristik social. Alquran dengan demikian menyatakan bahwa perbedaan antarindividual tidak hanya meliputi perkembangan kognitif, namun juga seluruh aspek perkembangan. Dengan melihat hal ini, orang akan melihat bahwa perbedaan individu merupakan hal yang sangat diperhatikan bahkan dalam berbagai perintah dan larangan Alquran untuk mentaati Allah dan juga keringanan dalam memenuhi kewajiban terhadap-Nya. Contoh tipikal dari ayat ini adalah perintah untuk memenuhi peraturan Allah semampu mungkin, baik secara individu maupun kolektif:
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu…(QS Al-Thaghaabun 64:16)
Makna ini juga terkandung juga dalam ayatt berikut:
Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikannya) dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…(QS Al-Baqarah 2:286)
Menurut Ibn Katsir, Allah menerangkan dalam ayat berikut bahwa Dia menciptakan keragaman pada makhluk-makhlukNya, termasuk manusia dalam hal kekayaan, intelektual,pemahaman, dan kemampuan lain yang bersifat internal dan eksternal:
…dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain… (QS Al-Zukhruf 43:32)
Simpulan
Psikologi perkembangan menurut Islam memiliki kesamaan objek studi dengan psikologi perkembangan pada umumnya, yaitu proses pertumbuhan dan perubahan manusia. jika psikologi perkembangan membatasi penelitiannya dari konsepsi sampai kematian, yang memiliki prinsip dasar yang terdiri dari kehidupan manusia merupakan proses yang gradual, memiliki pola tertentu, merupakan proses kumulatif dan silmultan, melampaui keberadaan fenomenal duniawi, dan melewati periode kritis dan sensitive tertentu.
Factor perkembangannya terdiri dari harediter, lingkungan dan yang paling penting adalah factor ketentuan Allah. Dia sendiri yang membentuk manusia dengan bentuk yang berbeda dan unik sehingga setiap manusia antar individu tersebut berbeda.
REFERENSI :
Hasan, Purwakania, B., Aliah. Psikologi Perkembangan Islami. 2006, Jakarta : PT. RAJAGRAFINDO PERSADA
Radiefwisnu Anggara di 04.27
Berbagi
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
‹
›
Beranda
Lihat versi web
Diberdayakan oleh Blogger.
CIRI PERKEMBANGAN
Bimbingan & konseling
Ciri-ciri tahap perkembangan
Rabu, 19 September 2012
PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI PERKEMBANGAN
Perkembangan adalah perubahan yang progesif dan kontinyu (berkesimnambungan) dalam diri individu mulai lahir sampai mati.
Pengertian lainnya yaitu : Perubahan – perubhan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis, progesif, dan berkesinambungan baik menyangkut fisik maupun psikis.
1. Sistematis adalah perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian – bagian organisme (fisik & psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis.
2. Progesif : perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis).
3. Berkesinambungan : perubahan pada bagian atau fungsi organisme berlangsung secara beraturan.
Ciri – ciri perkembangan secara umum yaitu :
1. Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (perubahan berat badan dan organ – organ tubuh) dan aspek psikis (matangnya kemampuan berpikir, mengingat, dan berkreasi)
2. Terjadinya perubahan dalam proporsi; aspek fisik (proporsi tubuh anak beubah sesuai dengan fase perkembangannya) dan aspek psikis (perubahan imajinasi dari fantasi ke realitas)
3. Lenyapnya tanda – tanda yang lam; tanda - tanda fisik (lenyapnya kelenjar thymus (kelenjar anak – anak) seiring bertambahnya usia) aspek psikis (lenyapnya gerak – gerik kanak – kanak dan perilaku impulsif).
4. Diperolehnya tanda – tanda yang baru; tanda – tanda fisik (pergantian gigi dan karakter seks pada usia remaja) tanda – tanda psikis (berkembangnya rasa ingin tahu tentang pengetahuan, moral, interaksi dengan lawan jenis).
PRINSIP-PRINSIP PERKEMBANGAN
1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process) artinya manusia secara terus menerus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar.
2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi artinya setiap aspek perkembangan individu baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial saling mempengaruhi jika salah satu aspek tersebut tidak ada.
3. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu artinya perkembangan terjadi secara teratur sehingga hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.
Arah atau pola perkembangan pola itu dikemukakan oleh Yelon dan Weinstein (1977) :
a. Cephalocaudal & proximal – distal. Maksudnya, perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki (cephalocaudal) dan dari tengah ; paru – paru, jantung, ke pinggir : tangan (proximal – distal).
b. Struktur mendahului fungsi arinya bahwa anggota tubuh individu akan dapat berfungsi setelah matang strukturnya.
c. Perkembangan itu berdiferensial maksudnya perkembangan itu berlangsung dari umum ke khusus (spesiik).
d. Perkembangan itu berlangsung dari konkret ke abstrak, maksudnya perkembangan itu berproses dari suatu kemampuan berpikir yang konkret (objeknya tampak) menuju ke abstrak (objeknya tidak tampak).
e. Perkembangan itu berlangsung dari egosentrisme ke perspektifme, berarti bahwa mulanya anak hanya melihat atau memperhatikan dirinya sendiri sebagai pusat, tapi melalui pengalamannya dalam bergaul dengan temannya lambat laun sifat egosentris itu berubah menjadi perspektivis (anak memiliki simpati terhadap kepentingan orang lain)
f. Perkembangan itu berlangsung dari “outer control to inner control”, maksudnya pada awalnya anak sangat bergantung pada orang lain sehingga hidupnya didominasi oleh pengontrolan dari luar seiring bertambahnya pengalaman dari lingkungan ia mampu mengontrol dirinya sendiri.
4. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan Perkembangan fisik dan menta mencapai kematangannya pada waktu dan tempo yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat)
5. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Prinsip ini dijelaskan dengan contoh yaitu :
a. Sampai usia dua tahun, anak memusatkan unuk mengenal lingkungannya.
b. Pada usia tiga sampai enam tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar bergaul dengan orang lain)
6. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan / fase perkembangan. Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang. Individu akan mengalami fase – fase perkembangan.
7. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process) artinya manusia secara terus menerus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar.
8. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi artinya setiap aspek perkembangan individu baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial saling mempengaruhi jika salah satu aspek tersebut tidak ada.
9. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu artinya perkembangan terjadi secara teratur sehingga hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.
Arah atau pola perkembangan pola itu dikemukakan oleh Yelon dan Weinstein (1977) :
g. Cephalocaudal & proximal – distal. Maksudnya, perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki (cephalocaudal) dan dari tengah ; paru – paru, jantung, ke pinggir : tangan (proximal – distal).
h. Struktur mendahului fungsi arinya bahwa anggota tubuh individu akan dapat berfungsi setelah matang strukturnya.
i. Perkembangan itu berdiferensial maksudnya perkembangan itu berlangsung dari umum ke khusus (spesiik).
j. Perkembangan itu berlangsung dari konkret ke abstrak, maksudnya perkembangan itu berproses dari suatu kemampuan berpikir yang konkret (objeknya tampak) menuju ke abstrak (objeknya tidak tampak)
k. Perkembangan itu berlangsung dari egosentrisme ke perspektifme, berarti bahwa mulanya anak hanya melihat atau memperhatikan dirinya sendiri sebagai pusat, tapi melalui pengalamannya dalam bergaul dengan temannya lambat laun sifat egosentris itu berubah menjadi perspektivis (anak memiliki simpati terhadap kepentingan orang lain)
l. Perkembangan itu berlangsung dari “outer control to inner control”, maksudnya pada awalnya anak sangat bergantung pada orang lain sehingga hidupnya didominasi oleh pengontrolan dari luar seiring bertambahnya pengalaman dari lingkungan ia mampu mengontrol dirinya sendiri.
10. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Perkembangan fisik dan menta mencapai kematangannya pada waktu dan tempo yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat).
11. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Prinsip ini dijelaskan dengan contoh yaitu :
a. Sampai usia dua tahun, anak memusatkan unuk mengenal lingkungannya.
b. Pada usia tiga sampai enam tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (belajar bergaul dengan orang lain)
c. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan / fase perkembangan. Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia. Panjang individu akan mengalami fase – fase perkembangan.
FASE-FASE PERKEMBANGAN
Pendapat para Ahli mengenai periodisasi yang bermacam-macam di atas dapat digolongkan dalam tiga bagian, yaitu:
1) Periodisasi yang berdasar biologis.
Periodisasi atau pembagian masa-masa perkembangan ini didasarkan kepada keadaan atau proses biologis tertentu. Pembagian Aristoteles didasarkan atas gejala pertumbuhan jasmani yaitu antara fase satu dan fase kedua dibatasi oleh pergantian gigi, antara fase kedua dengan fase ketiga ditandai dengan mulai bekerjanya kelenjar kelengkapan kelamin.
2) Periodisasi yang berdasar psikologis.
Tokoh utama yang mendasarkan periodisasi ini kepada keadaan psikologis ialah Oswald Kroch. Beliau menjadikan masa-masa kegoncangan sebagai dasar pembagian masa-masa perkembangan, karena beliau yakin bahwa masa kegoncangan inilah yang merupakan keadaan psikologis yang khas dan dialami oleh setiap anak dalam masa perkembangannya.
3) Periodisasi yang berdasar didaktis.
Pembagian masa-masa perkembangan sekarang ini seperti yang dikemukakan oleh
Harvey A. Tilker, PhD dalam “Developmental Psycology to day”(1975) dan Elizabeth B.
Hurlock dalam “Developmental Psycology”(1980) tampak sudah lengkap mencakup sepanjang hidup manusia sesuai dengan hakikat perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi sampai mati dengan pembagian periodisasinya sebagai berikut:
1. Masa Sebelum lahir (Prenatal Period)
2. Masa Bayi Baru Lahir (New Born).
3. Masa Bayi (Babyhood).
4. Masa Kanak-kanak Awal (Early Chilhood).
5. Masa Kanak-kanak Akhir (Later Chilhood).
5. Masa Kanak-kanak Akhir (Later Chilhood).
6. Masa Puber (Puberty).
7. Masa Dewasa Awal (Early Adulthood).
8. Masa Dewasa madya ( Middle Adulthood).
9. Masa Usia Lanjut ( Later Adulthood).
Pengertian dan kriteria menentukan fase perkembangan
Fase perkembangan artinya penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan
individu yang diwarnai ciri – ciri khusus atau pola- pola tingkah laku tertentu.
Pendapat – pendapat para ahli tentang pembabakan atau periodisasi perkembangan ini digolongkan menjadi 3, yaitu :
a. Tahap perkembangan berdasarkan analisis biologis
Pendapat para ahli tentang tahap tersebut :
1. Aristoteles menggambarkan perkembangan individu, sejak anak – anak sampai dewasa menjadi 3 tahapan :
a. Tahap I (0 – 7 tahun) : masa anak kecil atau bermain
b. Tahap II (7 – 14 tahun) : masa anak, masa sekolah rendah
c. Tahap III (14 – 21 tahun) : masa peralihan dari usia anak menjadi dewasa
2. Kretscmer mengemukakan bahwa dari lahir sampai dewasa individu melewati 4
tahapan :
a. Tahap I (0 – 3 tahun); Fullungs (pengisian) periode I, pada fase ini anak kelihatan pendek gemuk.
b. Tahap II (3 – 7 tahun); periode I, anak kelihatan langsing (meninggi)
c. Tahap III (7 – 13 tahun); Fullungs periode II, anak kelihatan pendek dan gemuk kembali
d. Tahap IV (13 – 20 tahun); Streckungs periode II, anak kembali kelihatan langsing
3. Elizabeth Hurlock :
a. Tahap I : Fase Prenatal (sebelum lahir)
b. Tahap II : Infancy (orok)
c. Tahap III : Babyhood (bayi)
d. Tahap IV : Childhood (kanak – kanak)
e. Tahap V : Adolesence/puberty; a.) Pre Adolesence
b.) Eary Adolesence c.)
4. Late Adolesence
Tahap perkembangan berdasarkan didaktis atau instruksional.
Menurut pendapat dari Comenius dan pendapat Rosseau penahapan ini digolongkan sebagai berikut :
1. Comenius. Dipandang dari segi pendidikan, pendidikan lengkap bagi seorag ibu
berlangsung dalam 4 jenjang yaitu :
a. Sekolah ibu (scola maternal) anak – anak sampai 6 tahun
b. Sekolah bahasa ibu (scola vernaculan) anak –anak 6 – 12 tahun
c. Sekolah latin (scola latina) usia 12 – 8 tahun
2. Rosseau. Penahapannya :
a. Tahap I (0 – 2 tahun) : usia asuhan
b. Tahap II (2 – 12 tahun) : masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera
c. Tahap III (12 – 15 tahun) : periode pendidikan akal
d. Tahap IV (15 – 20 tahun) : periode pendidikan watak dan pendidikan agama.
c. Tahap perkembangan berdasarkan psikologis
Tahap ini menggunakan aspek psikologis sebagai landasan dalam menganalisis
tahap perkembangan, mencari pengalaman individu yang digunakan sebagai masa perpindahan dari fase yang satu ke fase yang lain dalam perkembangannya.
Berdasarkan masa dimana individu mengalami goncangan psikis, perkembangan individu dapat digambarkan melewati tiga periode atau masa, yaitu dari sampai masa
kegoncangan pertama (tahun ketiga atau keempat yang biasa disebut masa kanak – kanak), masa goncangan pertama sampai pada masa kegoncangan kedua (masa keserasian bersekolah), dari masa kegoncangan kedua sampai akhir masa remaja yang biasa disebut masa kematangan.
KRITERIA PENAHAPAN PERKEMBANGAN
Dalam hubungan proses belajar mengajar pentahapan perkembangan yang digunakan
sebaiknya bersifat elektif (tidak terpaku pada satu pendapat saja).
Fase – fase perkembangan individu :
1. Masa usia pra sekolah (0 – 6 tahun)
Masa ini terbagi 2 yaitu : masa vital masa dimana individu menggunakan fungsi – fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya, dan masa estetik (keindahan) adalah masa perkembangan rasa keindahan dimana dalam masa ini perkembangan anak yang terutama adalah fungsi pancainderanya.
2. Masa usia sekolah dasar (6 – 12 tahun)
Masa ini disebut juga masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Masa ini diperinci menjadi 2 fase, yaitu :
1. Masa kelas – kelas rendah sekolah dasar
Sifat – sifat yang umum pada masa ini biasanya anak tunduk pada peraturan – peraturan tradisional, adanya kecenderungan memuji diri sendiri, suka membanding – banding kan dirinya dengan anak yang lain.
2. Masa kelas – kelas tinggi sekolah dasar
Sifat – sifat khas anak dalam masa ini antara lain : adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari – hari, amat realistic (ingin mengetahui dan belajar), biasanya anak gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama – sama.
Masa keserasian berekolah diakhiri dengan masa yang disebut poeral. Sifat – sifat khas anak pada masa poeral ini menurut para ahli yaitu :
1. Ditujukan untuk berkuasa (sikap, tingkah laku, dan perbuatan)
2. Ekstraversi (berorientasi keluar dirinya, misalnya mencari teman sebaya untuk memenuhi kebutuhan fisiknya).
3. Masa usia sekolah menengah (12 – 18 tahun) Masa ini dapat diperinci menjadi beberapa masa, yaitu :
a. Masa praremaja (remaja awal), masa ini ditandai oleh sifat – sifat negatif pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negatif seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pesimistik.
b. Masa remaja (remaja madya), pada masa ini remaja mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja – puja, dan ia membutuhkan teman yang dapat memahami dan menolongnya saat suka maupun duka.
c. Masa remaja akhir, masa ini remaja dapat menentukan pendirian hidupnya.
4. Masa usia mahasiswa (18 – 25 tahun)
Masa usia mahasiswa biasanya berusia 18 – 25 tahun, dan pada masa inilah remaja memiliki pemantapan pendirian hidup.
Agustina Dwi Herawati di 09.05
Berbagi
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
‹
Beranda
Lihat versi web
Mengenai Saya
Agustina Dwi Herawati
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.
PERKEMBANGAN DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
A. Perkembangan Menurut Konsep Aliran-Aliran Psikologi
Perkembangan merupakan terjemahan dari developmental. Yang secara singkat dapat didefenisikan sebagai suatu proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), “perkembangan”adalah perihal berkembang. Selanjutnya, kata “berkembang” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ini berarti mekar terbuka atau membentang, menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian, kata “berkembang” tidak saja meliputi aspek yang bersifat abstrak seperti pikiran dan pengetahuan, tetapi juga meliputi aspek yang bersifat konkret .
Dalam Dictionary of Psychology (1972) dan The Penguin Dictionary of Psychology (1988), arti perkembangan pada prinsipnya adalah tahapan-tahapan perubahan yang progressif yang terjdai dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainnya, tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam diri organisme-organisme tersebut.
Selanjutnya, Dictionary of Psychology di atas secara Lebih luas merinci pengertian perkembangan manusia sebagai berikut:
The Progressive and continous change in the organism from birth to death, perkembangan itu merupakan perubahan yang progresif dan terus-menerus dalam diri organisme sejak sejak lahir hingga nanti
Growth, perkembangan itu berarti pertumbuhan
Change in the shape and integration of bodily parts, perkembangan berarti perubahan dalam bentuk penyatuan bagian-bagian yang fungsional
Maturation or the apperearence of fundamental pattern of unlearned behavior, perkembangan itu adalah kematangan atau kemunculan pola-pola dasar tingkah laku yang bukan hasil belajar.
Dalam defenisi yang lain perkembangan itu ialah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam pasage waktu tertentu menuju kedewasaan.
Perkembangan adalah pola perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional yang dimulai sejak lahir dan terus berlanjut di sepanjang hayat. Perkembangan dapat pula diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi psiko-fisik yang herediter, dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan yang menguntungkan, dalam perwujudan proses aktif menjadi secara kontiniu.
Perkembangan itu berorientasi pada psikologis/kejiwaan atau mental.
Dalam pengertian sempit bisa disebutkan sebagai: proses pematangan fungsi-fungsi yang non-fisik. Maka perkembangan anak itu sering kali diibaratkan dengan mekar-berkembangnya kuncup bunga yang belum ada gunanya, yang kemudian mekar membesar jadi sekuntum bunga, harum baunya, dan berwarna indah. Sekarang bunga berubah menjadi berguna, dan mempunyai daya tarik bagi binatang-binatang serangga tertentu, tidak lama kemudian bunga ini menjadi benih.
Maka sesuai dengan pendapat diatas, seorang bai itu belum mempunyai daya dan belum berguna (belum mempunyai nilai pragmatis). Lama-kelamaan ia menjadi anak muda dan jadi dewasa, yang berdaya dan dapat melaksanakan sesuatu usaha. Juga menjadi berguna, sebab bisa bekerja dan mendatangkan hasil atau mata pencaharian.
Sepintas lalu memang ada persamaan lahiriah dari gejala perkembangan anak dan kuncup bunga tersebut. Namun janganlah perkembangan anak disamakan secara mutlak dengan berkembangnya kuncup bunga . Perbedaan penting dalam hal ini ialah: perkembangan bunga adalah akibat dari pertumbuhan organis, yang berlangsung secara mekanis –otomatis. Contohnya: jika cahaya matahari cukup, air dan makanan ada, serta hawa udara baik, bunga akan mekar dengan sendirinya.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa perkembangan adalah rentetan perubahan jasmani dan rohani manusia menuju ke arah yang lebih maju dan sempurna. Namun, perlu juga penulis mengemukakan bahwa sebagian orang menganggap perkembangan sebagai proses yang berbeda dari pertumbuhan.
Menurut mereka berkembang itu tidak sama dengan tumbuh, begitupun sebaliknya.
Berikut ini dapat penulis paparkan bagaimana sebenarnya ciri-ciri perkembangan itu sehingga dapat terlihat perbedaannya dengan pertumbuhan.
Pertumbuhan
Perubahan kuantitatif yang mengacu pada jumlah, besar, dan luas yang bersifat konkret
Kenaikan dan penambahan ukuran yang berangsur-angsur seperti badan yang menjadi besar dan tegap, juga kaki dan tangan yang semakin panjang
Perkembangan
Proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniyah, bukan organ-organ jasmaniyahnya itu sendiri. Dengan kata lain, penekanan arti perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik.
Konsep Perkembangan Menurut Sears
Sears merumuskan perkembangan sebagai berikut: Perkembangan adalah sesuatu yang berkesinambungan, urut-urutan yang teratur dari kondisi yang menciptakan perbuatan, dorongan baru untuk bertindak dan pola tingkah laku”.
Konsep Perkembangan Teori Asosiasi Menurut Herbart
Herbart merumuskan teori perkembangan yang disebut dengan teori asosiasi. Disebut demikian oleh karena Herbart berpendapat bahwa seluruh proses perkembangan itu diatur dan dikuasai oleh kekuatan hukum sosial. Herbart berpendapat bahwa terjadinya perkembangan adalah oleh karena adanya unsur-unsur yang berasosiasi, sehingga sesuatu yang semula bersifat simple (unsur yang sedikit) makin lama makin kompleks dan banyak.
Herbart berpendapat demikian karena teorinya, bahwa anak baru lahir keadaan jiwanya masih bersih. Sejak alat inderanya dapat menangkap sesuatu yang datang dari luar, maka alat indera itu mengirimkan gambar, atau tanggapan ke dalam jiwa nya. Makin banyak tanggapan makin banyak pula tanggapan. Di dalam jiwa, tanggapan-tanggapan ini berasosiasi sesamanya, dengan kekuatan yang dapat diukur. Tanggapan yang sejenis berasosiasi dan tidak sejenis tolak menolak secara mekanis, dan makin lama makin banyak, makin kompleks. Dan inilah perkembangan itu.
Konsep Perkembangan Menurut Teori Gestalt (Wilhelm Wundt)
Teori ini lahir sebagai reaksi terhadap teori Herbart. Mereka berpendapat proses perkembangan bukan berlangsung dari sesuatu yang simple ke sesuatu yang kompleks, melainkan berlangsung dari sesuatu yang bersifat global (menyeluruh tapi samar-samar) ke makin lama makin dalam keadaan jelas, nampak bagian-bagian dalam keseluruhan itu. Jadi dari keadaan gestalt ke struktur. Bagian-bagian ini merupakan kesatuan-kesatuan tertentu yang baru berfaedah bila ia berada dalam gestalt tersebut. Ia berada di tempatnya yang spesifik dan akan merusak Gestalt bila ia dipisahkan.
Seperti halnya sepeda (yang dapat dinaiki), adalah sesuatu Gestallt dari bagian-bagian yang masing-masing merupakan kesatuan: setir, roda, rantai, gird an sebagainya. BIla salah satu bagian kesatuan itu (roda mislanya) dipisahkan, maka rusaklah gestalt sepeda itu (tidak dapat dinaiki lagi).
Jadi, dengan tegas mereka berpendapat bahwa perkembangan bukan proses-proses asosiasi melainkan proses differensiasi.
Neo gestalt (Kurt Lewin) menambahkan adanya proses stratifikasi dalam proses differensiasi. Tegasnya disamping adanya differensiasi yang berlangsung terus, kelanjutan differensiasi itu pun berkembang setahap demi setahap Se-strata demi se- strata.
Pada masa bayi, ia mengalami proses differensiasi kemudian naik ke tahap (strata) masa kanak-kanak. Dalam masa kanak-kanak ini proses differensiasi berjalan terus, kemudian naik ke strata masa anak.
Demikian seterusnya.
Konsep Perkembangan Teori Sosialisasi Menurut James Mark Baldwin
Teori ini berpendapat bahwa proses perkembangan itu adalah proses sosialisasi dari sifat individualistis. Dalam hal ini Baldwin terkenal dengan teori : Circulair Reaction. Ia berpendapat bahwa perkembangan sebagai proses sosialisasi, adalah dalam bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi. Adaptasi dan seleksi berlangsung atas dasar hukum efek (law of effect) . Tingkah laku pribadi seseorang adalah hasil dari peniruan (imitasi).
Kebiasaan adalah imitasi terhadap diri sendiri, sedang adaptasi adalah peniruan terhadap orang lain. Oleh efeknya sendiri tingkah laku itu dipertahankan. Selanjutnya oleh efeknya sendiri tingkah laku itu dapat ditingkatkan faedah dan prestasinya. Dalam hal yang demikian inilah terkandung daya kreasi, sehingga manusia mampu menggunakan hasil peniruan itu sesuai dengan kebutuhannya sendiri.
Teori ini mendapat dukungan dari W. Stern
Konsep Perkembangan Teori Freuidism (Sigmund Freud)
Teori ini dikemukakan oleh seorang pemuka dalam Psikologi. Dalam yang bernama Sigmund Freud . Dalam mengemukakan teorinya, ia menggunakan sebagai contoh: Pada masa bayi manusia belum bermoral kemudian sesudah memiliki moral secara heterogen, dan akhirnya memiliki moral dengan norma yang ditetapkan sendiri secara autonom.
Proses pemilikan moral dari heterogen ke moral autonom ini disebut internalisasi. Sebab, norma moral tersebut ditentukan sendiri oleh manusia dengan menggunakan factor internnya.
Proses internalisasi ini berlangsung dengan identifikasi. Oleh karena proses ini menggunakan masyarakat sebagai faktor utama maka teori ini dapat dimaksudkan pula sebagai teori sosialisasi. Yang dapat dimaksudkan pula sebagai teori sosialisasi adalah teori Langeveld. Ia menyusun teorinya atas empat azas, yaitu: azas biologis, azas ketidakberdayaan, azas keamanan, azas eksplorasi.
Mula-mula perkembangan yang dialami manusia adalah perkembangan biologis. Yaitu dari telur ke janin, kemudian menjadi bunyi dan seterusnya, kemudian baru secara psikis. Yang bermula dari sifatnya yang tidak berdaya. Tetapi karena tidak berdaya inilah justru memungkinkan terjadinya perkembangan, bila ia berada dalam pergaulan antar manusia. Intuk itu, ia memerlukan rasa aman, rasa dilindungi, sehingga memungkinkan adanya kesempatan untuk berimitasi, beradaptasi, maupun identifikasi. Selanjutnya, karena perkembangan itu sendiri ada pada dirinya secara kodrat, maka si anak mengadakan eksplorasi untuk memungkinkan diri sebagai warga masyarakat. Demikianlah, proses perkembangan itu berlangsung sampai dewasa.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Adapun mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa, para ahli berbeda pendapat karena sudut pandang dan pendekatan mereka terhadap eksistensi siswa tidk sama. Untuk lebih jelasnya, berikut ini penyusun paparkan aliran-aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan:
a). Aliran Nativisme
Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filsof Jerman. Menurut aliran ini perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti ini disebut “pesimisme pedagogis”.
Sebagai contoh: jika sepasang orang tua ahli musik, maka anak-anak yang mereka lahirkan akan menjadi pemusik pula. Jadi pembawaan dan bakat orang tua selalu berpengaruh mutlak terhadap perkembangan kehidupan anak-anaknya.
b). Aliran Empirisme
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme dengan tokoh utamanya John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah “”The School of British Empiricism”(aliran empirisme Inggris). Namun aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filsafat bernama”enviromentalisme”(aliran lingkungan) dan psikologi bernama”enviromental Psychology” (psikologi lingkungan) yang masih relatif baru.
Doktrin empirisme yang amat masyhur adalah “tabula rasa”, sebuah istilah Latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.
Memang sukar dipungkiri bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap proses perkembangan dan masa depan siswa. Dalam hal ini lingkungan keluarga (bukan bakat bawaan dari keluarga) dan lingkungan masyarakat sekitar telah terbukti menentukan tinggi rendahnya mutu perilaku dan masa depan seorang siswa.
c). Aliran Konvergensi
Aliran ini merupakan gabungan antara aliran empirisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggambarkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama konvergensi bernama Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof dan psikolog Jerman.
Aliran filsafat yang dipeloporinya disebut”personalisme”, sebuah pemikiran filosofis yang sangat berpengaruh terhadap disiplindisplin ilmu yang berkaitan dengan manusia. Di antara disiplin ilmu yang menggunakan asas personalisme adalah “personologi” yang mengembangkan teori yang komprehensif (luas dan lengkap) mengenai kepribadian manusia.
Dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, Stern dan para hali yang mengikutinya tidak hanya berpegang pada lingkungan/pengalaman juga tidak berpegang pada pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor yang sama pentingnya itu, faktor pembawaan tidak berarti apa-apa jika tanpa faktor pengalaman.
Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor bakat pembawaan tak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan.
Para penganut aliran ini berkeyakinan bahwa baik faktor bawaan maupun faktor lingkungan andilnya sama besar dalam menentukan masa depan seseorang. Jadi, seorang siswa yang lahir dari keluarga santri atau kiyai, umpamanya, kelak ia akan menjadi ahli agama apabila dididik di lingkungan pendidikan keagamaan.
Hasil proses perkembangan seorang siswa tak dapat dijelaskan hanya dengan menyebutkan pembawaan dan lingkungan. Artinya. Keberhasilan seorang siswa bukan karena pembawaan dan lingkungan saja, karena siswa tersebut tidak hanya dikembangkan oleh pembawaan dan lingkungannya tetapi juga oleh diri siswa itu sendiri. Setiap orang, termasuk siswa tersebut, memiliki potensi self-direction dan self discipline yang memungkinkan dirinya bebas memilih antara mengikuti atau menolak sesuatu (aturan atau stimulus) lingkungan tertentu yang hendak mengembangkan dirinya. Alhasil, siswa itu sendiri memiliki potensi psikologis tersendiri untuk mengembangkan bakat dan pembawaannya dalam konteks lingkungan tertentu.
Berdasarkan uraian mengenai aliran-aliran doktrin filosofis yang berhubungan dengan proses perkembangan di atas, penyusun berkesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi-rendahnya mutu hasil perkembangan siswa pada dasarnya terdiri atas dua macam.
1. Faktor Intern, yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri.
2. Faktor Eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dalam lingkungannya.
C.Tahap-Tahap Perkembangan
Secara umum, proses dapat diartikan sebagai runtutan perubahan yang terjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud kata proses dalam perkembangan siswa ialah tahapan-tahapan perubahan yang dialami seorang siswa, baik yang bersifat jasmaniah maupun yang bersifat rohaniah. Proses dalam hal ini juga berarti tahapan perubahan tingkah laku siswa, baik yang terbuka maupun yang tertutup.
Proses bias juga berarti cara terjadinya perubahan dalam diri siswa atau respon /reaksi yang ditimbulkan oleh siswa tersebut. Proses perkambangan dengan pengertian seperti ini menurut Hurlock (1980) merupakan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan (Developmental Changes). Manusia, menurut Elizabet B. Hurlock, tak pernah statis atau mandek, karena perubahan-perubahan senantiasa terjadi dalam dirinya dalam berbagai kapasitas (kemampuan) baik yang bersifat biologis maupun yang bersifat psikologis.
Secara global, seluruh proses perkembangan individu sampai menjadi “person”(dirinya sendiri) berlangsung dalam tiga tahapan, yaitu:
1) Tahapan proses konsepsi (pembuahan sel ovum ibu oleh sel sperma ayah)
2) Tahapan proses kelahiran (saat keluarnya bayi dari rahim ibu kea lam dunia bebas)
3) Tahapan proses perkembangan individu bayi tersebut menjadi seorang pribadi yang khas (development or selfhood)
Menurut Konsep Aliran-Aliran Psikologi
Tahap-tahap atau fase perkembangan menurut para tokoh psikologi dibedakan atas dasar biologis, psikologis, dan pendidikan. Secara rinci fase-fase perkembangan adalah sebagai berikut:
1. Fase –fase perkembangan berdasarkan biologik
a. Menurut Aristoteles
Aristoteles menggambarkan perkembangan anak sejak lahir sampai dewasa itu dalam dalam tiga tahap, yang masing-masing lamanya tujuh tahun.
· Fase I dari 0,0 sampai 7,0 (masa anak kecil atau masa bermain)
· Fase II dari 7,0 sampai 14,0 (masa anak, masa belajar,atau masa sekolah rendah)
· Fase III dari 14,0 sampai 21,0 (masa remaja atau pubertas , masa peralihan dari anak menjadi remaja)
b. Menurut Kretschmer
Kretschmer
berpendapat bahwa sejak lahir sampai dewasa anak melewati empat fase, yaitu:
· Fase I: dari umur 0,0 sampai 3,0 tahun. Pada tahap ini anak nampak pendek dan gemuk
· Fase II : dari umur 3,0 sampai 7,0 tahun. Pada tahap ini nampak langsing (memanjang dan meninggi)
· Fase III : dari umur 7,0 sampai 13 tahun. Pada tahap ini anak nampak pendek dan gemuk seperti pada tahap awal
· Fase IV : dari umur 13 tahun sampai 20 tahun. Pada tahap ini anak nampak langsing seperti tahap II.
c. Menurut Freud
Tahap-tahap perkembangan manusia ini menurut Freud membagi menjadi empat fase, yaitu:
· Fase Oral : dari umur 0,0 sampai 1,0 tahun. Pada tahap ini mulut merupakan daerah utama dari aktifitas yang dinamika pada manusia
· Fase Anal : dari umt 0,0 samapi 3,0 tahun. Pada tahap ini dorongan dan aktivitas gerak berpusat pada fungsi pembuangan kotoran (anus)
· Fase Falis : dari umur 3,0 tahun sampai 5,0 tahun. Pada tahap ini alat-alat kelamin merupakan daerah erogen yang penting dan pendorong aktifitas.
· Fase Laten : dari umur 5,0 tahun sampai 12 tahun. Pada tahap ini dorongan-dorongan aktifitas cenderung untuk istirahat dalam arti tidak meningkatkan kecepatan pertumbuhan
· Fase Pubertas : dari umur 12 tahun sampai 20 tahun. Pada tahap ini dorongan-dorongan mulai aktif kembali.Kelenjar-kelenjar endoktrin tumbuh pesat dan berfungsi mempercepat pertumbuhan ke arah kematangan.
· Fase Genital : setelah umur 20 tahun dan seterusnya, maka dalam tahap ini pertumbuhan genital merupakan dorongan yang penting bagi tingkah laku seseorang dan telah siap untuk terjun ke dalam kehidupan masyarakat dewasa.
2. Fase Perkembangan Berdasarkan Didaktik/Pedagogik
a. Pendapat Johan Amos Comenius
Fase-fase perkembangan jiwa berdasarkan didaktik menurut Comenius dibedakan menjadi empat fase, yaitu:
· Fase I : umur 0,0 sampai 6,0 tahun. Pada tahap ini anak masuk Scola Materna (sekolah ibu)
· Fase II : umur 6,0 samapi 12 tahun. Pada tahap ini anak masuk scola Vermacula (sekolah bahasa ibu)
· Fase III : umur 12 tahun sampai 18 tahun. Pada tahap ini anak masuk Scola Latina (sekolah latin)
· Fase IV : Umur 18 tahun sampai 24 tahun. Pada tahap ini anak masuk academica (akademia)
Comenicus berpendapat bahwa tingkat perkembangan jiwa anak digunakan sebagai dasar dalam pembagian sekolah, sehingga terjadi bermacam-macam sekolah yang digunakan tempat pendidikan anak sesuia dengan umurnya
b. Pendapat J.J. Rousseau
Fase-fase perkembangan manusia adalah:
· Fase I : dari umur 0,0 sampai 2,0 tahun. Tahap ini disebut tahap asuhan
· Fase II : dari umur 2,0 sampai 12 tahun. Tahap ini dinamakan tahap pendidikan jasmani dan latihan-latihan panca indera
· Fase III : dari umur 12 sampai 15 tahun. Tahap ini disebut tahap pendidikan akal pikiran
· Fase IV : dari umur 15 sampai 20 tahun. Tahap ini disebut tahap pembentukan watak dan pendidikan agama.
Berdasarkan fase perkembangan tersebut maka masing-masing tingkat pendidikan sekolah, harusnya memberikan pelajaran dan mendidik sesuai dengan perkembangan peserta didik. Keduanya yaitu apa yang diberikan dan cara mengajar dan mendidik harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
3. Fase Perkembangan Berdasarkan Psikologis
a). Pendapat Oswald Kroch
Selama perkembangannya individu mengalami masa trotz (kegoncangan dua kali, perkembangan itu dapat dilukiskan sebagai proses evolusi, maka pada masa kegoncangan itu, perkembangan individu dapat digambarkan melewati tiga periode, yaitu:
Dari lahir sampai dengan masa trotz pertama yang biasanya disebut masa kanak-kanak
Dari masa trotz pertama sampai dengan trotz kedua, biasanya disebut masa keserasian bersekolah’
Dari trotz kedua sampai dengan akhir remaja, biasanya disebut masa kematangan
b). Pendapat Khosntam
0-2 tahun (masa vital)
2-7 tahun (masa estetis)
7-13/4 tahun (masa intelektual)
3/14 tahun 20/21 tahun (masa sosial)[9]
Menurut Kartini Kartono dalam bukunya Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan), ada beberapa tokoh dalam aliran lainnya yang mengemukakan tentang tahap atau konsep perkembangan anak diantaranya:
a). Pendapat Charlotte Buhler
Buhler membagi masa perkembangan sebagai berikut:
Fase Pertama, 0-1 tahun: masa menghayati obyek-obyek di luar diri sendiri, dan saat melatih fungsi-fungsi. Terutama melatih fungsi motorik, yaitu fungsi yang berkaitan dengan gerakan-gerakan dari badan dan anggota badan
Fase kedua, 2-4 tahun: masa pengenalan dunia obyektif di luar diri sendiri, disertai penghayatan subyektif. Mulai ada pengenalan pada AKU sendiri, dengan bantuan bahasa dan kemauan sendiri. Anak tidak mengenal dunia luar berdasarkan pengamatan obyektif, melainkan memindahkan keadaan batinnya pada benda-bemda di luar dirinya. Karena itu ia bercakap-cakap dengan bonekanya, bergurau dan berbincang-bincang dengan kelincinya. Seperti kedua binatang dan benda permainan itu betul-betul memilki sifat-sifat yang dimilikinya sendiri. Fase ini disebut pula sebagai fase bermain, dengan subyektivitas yang sangat menonjol.
Fase ketiga, 5-8 tahun: masa sosialisasi anak. Pada saat ini anak mulai memasuki masyarakat luas (misalnya taman kanak-kanak, pergaulan dengan kawan-kawan sepermainan, dan sekolah rendah). Anak mulai belajar mengenal dunia sekitar secara obyektif. Dan ia mulai belajar mengenal arti prestasi pekerjaan, dan tugas-tugas kewajiban.
Fase keempat, 9-11 tahun: masa sekolah rendah. Pada periode ini anak mencapai obyektifitas tertinggi. Masa penyelidik, kegiatan mencoba dan bereksperimen, yang distimulir oleh dorongan-dorongan meniliti dan rasa ingin tahu yang besar. Merupakan masa pemusatan dan penimbunan tenaga untuk berlatih, menjelajah dan bereksplorasi.
Pada akhir fase ini anak mulai “menemukan diri sendiri”, yaitu secara tidak sadar mulai berfikir tentang diri pribadi. Pada waktu itu anak sering kali mengasingkan diri.
Fase kelima, 14-19 tahun: masa tercapainya sintese antara sikap kedalam batin sendiri dengan sikap obyektif. Untuk kedua kali dalam kehidupannya anak bersikap subyektif ( Subyektifitas pertama terdapat pada fase kedua, yaitu usia 3 tahun). Akan tetapi subyektifitas kedua kali ini dilakukannya dengan sadar.
Setelah berumur 16 tahun pemuda dan pemudi mulai belajar melepaskan diri dari persoalan tentang diri sendiri. Ia lebih mengarahkan minatnya pada lapangan hidup konkrit, yang dahulu hanya dikenal secara subyektif belaka. Lambat laun akan terbentuk persesuaian antara pengarahan diri ke dalam dan pengarahan diri ke luar. Diantara subyek dan obyek ( yang dihayatinya) mulai terbentuk satu sintese. Dengan tibanya masa ini, tamatlah masa perkembangan anak dn perkembangan remaja. Melalui Individu yang bersangkutan memesuki batas kedewasaan.
b). Hackel
Hackel
seorang sarjana Jerman mengemukakan hukum biogenetis sebagai berikut:
Ontogenese itu adalah rekapitulasi dari phylogenese artinya, perkembangan individu itu merupakan ulangan ringkas dari perkembangan manujsia.
Hukum biogenetis ini disebut pula sebagai teori rekapitulasi. Penjelasan teori tadi adalah sebagai berikut: perkembangan jiwani anak itu merupakan ringkasan pendek dari proses kehidupan manusiawi. Menurut teori ini, semua bentuk gejala perkembangan dari kehidupan psikis manusia di dunia akan dijalani oleh anak dengan “langkah-langkah besar, dan dalam waktu yang singkat”(ada singkatan dan percepatan langkah hdup). Misalnya, kesukaan anank-anak pada warna-warna yang menyala, sama dengan kesukaan dari suku bangsa-bangsa yang masih primitif. Kesenangan anak pada musik dan suara gaduh, juga sama dengan kesukaan suku-suku yang primitif. Ketakutan anak-anak pada setan dan hantu-hantu menyamai fikiran yang animistis pada bangsa-bangsa yang belum beadab.
Menurut teori ini, orang membedakan 4 periode dalam masa perkembangan anak, yaitu
Masa perampokan/penggarongan dan masa perburuan, sampai kira-kira usia 8 tahun. Pada masa ini, anak-anak memperlihatkan kesukaan menangkap macam-macam binatang dan serangga, main panah-panahan dan ketapel-pelanting, membangun teratak, main selinap, megendap-ngendap, dan memburu kawan-kawannya.
Masa Penggembalaan, 8-10 tahun. Pada usia ini anak suka sekali memelihara ternak dan binatang jinak. Misalnya memelihara kelinci, merpati, bajing, kucing, anjing, kambing, domba, ayam, dan lain-lain. Dengan penuh kasih sayang anak-anak menimang-nimang dan membelai binatang peliharaannya.
Masa Pertanian, 11-12 tahun. Pada usia ini anak memperlihatkan kesukaan menanam macam-macam tetumbuhan dan kegiatan berkebun.
Masa perdagangan, 13-14 tahun. Anak gemar sekali mengumpulkan macam-macam benda, serta bertukar/”jual-beli” perangko, uang receh, kartu pos bergambar, manik-manik, batu-batuan dan lain-lain.
Ada teori yang menyebut teori rekapitulasi ini sebagai teori persamaan, karena masa perkembangan anak tersebut mirip dengan perjalanan historis manusia (Claparede dari Swiss).
c). Menurut William Stern
William Stern menyebutkan hukum biogenetis dari hackel tadi sebagai paralel-paralel genetis. Sebab tidak setiap perkembangan psikis anak merupakan ulangan tepat dari pengalaman historis manusia. Akan tetapi memang ada banyak paralelitas atau persamaannya, misalnya saja, priode 2-7 tahun, disamakan oleh Stern dengan kehidupan suku-suku bangsa alam (natuurvolken). Tahun-tahun pertama di sekolah dasar disamakan dengan priode berkuasanya kaum patriakh. Sedangkan masa pubertas disamakan dengan priode aufklarung (aliran di jerman pada abad ke-18 yang menuntut adanya penerangan jiwa/ Geestes-verlichting).
Pada lazimnya seorang anak muda disebut sebagai dewasa apabila ia telah mencapai umur 21 tahun. Karena pada usia ini ia dianggap sanggup berdiri sendiri, dan bisa bertanggung jawab dalam melaksankan tugas hidupnya. Perkembangan badani dan jiwaninya pada taraf tersebut dianggap mencapai suatu “penyelesaian” tertentu, karena individu sudah mendapatkan satu pendirian dan sikap hidup pendiri.
Dengan pengalaman dan kemampuannya ia dianggap sanggup menjadi seoarang pribadi atau person yaitu seorang manusia “dewasa baru”. Dia dianggap bsa mandiri, dan menjadi manusia “yang dicita-citakan” menurut pola angan-angannya, yaitu seorang manusia baik atau manusia buruk menurut kriteria normatif sendiri. Pada saat inilah benar-benar dimulai proses pendidikan diri sendiri atau proses Bildung oleh anak tersebut.
Apakah dia menjadi bertambah sempurna dan semankin kaya hidup kejiowaannya, ataukah menjadi lebih buruk dan jahat, semuanya dipengaruhi oleh pilihannya sendiri dan pengalaman-pengalaman hidupnya. Jadi semata-mata bergantung pada cara individu mengolah dan mengahayati pengalaman tadi untuk sampai pada taraf sedemikian diperlukan pengembangan kemampuan:
a. Mengontrol diri sendiri
b. Kepatuhan kepada disiplin yang kokoh
c. Kejujuran dan keberanian untuk melakukan introspeksi atau mawas diri
Dengan modal kemampuan tersebut akan timbul kesadaran pada anak muda akan tanggung jawab untuk pembentukan diri sendiri menjadi pribadi yang berwatak dan bernilai tinggi secara susila.
D. Ciri-Ciri Kematangan
Setiap fenomena /gejala
perkembangan anak merupakan produk dari kerjasama san pengaruh timbal balik antara potensialitas hereditas dengan factor-faktor lingkungan. Jelasnya perkembangan merupakan produk dari:
1) Pertumbuhan dan pematangan fungsi-fungsi fisik
2) Pematangan fungsi-fungsi psikis
3) Usaha”belajar”oleh subyek/anak dalam mencobakan segenap potensialitas rohani dan jasmaninya.
Dengan demikian, kaitan antara perkembangan yang mencakup aspek-aspek psikis serta aspek jasmani, dan belajar lebih lanjut yang dimungkinkan karena proses perkembangan itu menjadi semakin kompleks. Dalam arti demikianlah boleh dikatakan : anak belajar karena telah berkembang. Dalam kaitan ini dapat digunakan istilah “kematangan”dan “masa peka”. Namun, kedua istilah tersebut dapat diartikan dengan berbagai cara:
1) Kematangan sebagai “kematangan seksual’’. Dalam arti demikian, termasuk aspek jasmani dalam perkembangan (pertumbuhan) dan tidak tergantung pada usaha belajar anak sendiri.
2) Kematangan sebagai”keseluruhan proses perkembangan sudah sampai tahap tertentu, sehingga memungkinkan anak mempelajari hal-hal baru”. Misalnya anak baru siap pada masa remaja untuk belajar mengambil peranan dalam kehidupan masyarakat luas dan menjadi anggota masyarakat. Lain contoh ialah kematangan yang dituntut bila anak akan masuk jenjang pendidikan dasar (SD-SMP). Dalam arti demikian, kematangan untuk sebagian bergantung pada pertumbuhan dan untuk sebagian pada perkembangan psikis yang menuntut belajar.
3) Kematangan sebagai “masa yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan suatu fungsi tertentu dalam diri seorang anak”. Misalnya, anak yang sudah mampu berjalan kaki akan berkeliling dalam rumah dan bertanya-tanya mengenai benda yang dijumpai. Inilah masa anak akn siap untuk maju dalam asprk perkembangan intelektual. Dia mulai mengenal benda-benda baru dan kata-kata baru sebagai nama bagi semua benda itu. Misalnya, masa remaja adalah masa yang ideal untuk mengembangkan kesadaran tentang moralitas, yang kemudian mengendap dalam pengambilan sikap dan penghayatan nilai-nilai moral dan agama. Demikian pula pada masa remaja aspek perkembangan sosial dapat meluas lagi melalui pembinaan hubungan percintaan dengan jenis yang lain. Kalau kematangan diartikan demikian, digunakan juga istilah “masa peka”.
Individu-individu yang dapat melakukan aktualisasi diri sepenuhnya adalah individu-individu yang memiliki kepribadian sehat.
Sedangkan kepribadian sehat adalah kepribadian yang bukan saja terlepas dari konflik-konflik yang ada hubungannya dengan masa anak-anak dan luka-luka emosional masa lampau, tetapi lebih dari itu yaitu mampu mewujudkan sumber-sumber yang tersembunyi berupa bakat kreatifitas, energy dan dorongan. Dan fokusnya adalah kearah apa seseorang dapat menjadi dirinya sendiri, bukan kepada apa yang telah terjadi atau ada pada saat ini. Di dalam kepribadian yang sehat terdapat ciri-ciri kedewasaan atau kematangan.
Banyak pendapat ahli yang menjelaskan tentang cirri-ciri kematangan tersebut, di antaranya adalah pendapat Abraham Maslow, yaitu:
Memiliki kemampuan menerima diri sendiri, orang lain dan alam dunia ini tanpa perasaan malu atau bahkan suatu kebencian.
Terdapat aktualisasi diri, dan kemampuan efesiensi dalam menerima realita yang ada.
Memiliki kesanggupan untuk bebas dan berdiri sendiri.
Memiliki rasa sosial yang mendalam, dan kesanggupan identifikasi.
Memiliki banyak spontanitas dalam mengapresiasikan dunia dalam kebudayaannya.
Memiliki kesegaran apresiasi yang terus menerus terhadap sesamanya dalam pengartian tidak kaku dan menoton, serta tidak bersikap stereotype.
Ada ketabahan dan keuletan dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Ada keinginan untuk memiliki kebebasan dan otonomi diri.
Cakrawala kehidupannya tidak terbatas.
Cukup selektif dalam menjalin relasi-sosial.
Ada kesadaran humor yang filsafi, tidak memiliki sikap bermusuhan terhadap orang lain.
Memiliki keteguhan untuk berpegang pada tujuan akhir yang hendak dicapainya.
Memilikin kretifitas.
Di dalam struktur karakter, nilai-nilai dan sikapnya cukup demokratis.
E. Mengenali Tanda-Tanda Kedewasaan Pada Diri Seseorang
Para ahli psikologi dan psikiater sepakat, bahwa kesuksesan seseorang ditandai dengan berkembangnya prestasi serta kematangan emosinya. Meski tidak ada orang yang menyangkal pernyataan ini, tetapi sedikit orang yang mengetahui secara pasti tentang bagaimana penampilan seseorang yang dewasa atau matang itu, bagaimana cara berpakaian dan berdandannya, bagaimana caranya menghadapi tantangan, bagaimana tanggung jawabnya terhadap keluarga, dan bagaimana pandangan hidupnya tentang dunia ini. Yang jelas kematangan adalah sebuah modal yang sangat berharga.
Sesungguhnya apa yang disebut dengan kematangan atau kedewasaan itu?
Kedewasaan tidak selalu berkaitan dengan intelegensi. Banyak orang yang sangat brilian namun masih seperti kanak-kanak dalam hal penguasaan perasaannya, dalam keinginannya untuk memperoleh perhatian dan cinta dari setiap orang, dalam bagaimana caranya memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain, dan dalam reaksinya terhadap emosi. Namun, ketinggian intelektual seseorang bukan halangan untuk mengembangkan kematangan emosi. Malah bukti-bukti menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Orang yang lebih cerdas cenderung mempunyai perkembangan emosi yang lebih baik dan superior, serta mempunya kemampuan menyesuaikan diri atau kematangan sosial yang lebih baik.
Kedewasaan pun bukan berarti kebahagiaan. Kematangan emosi tidak menjamin kebebasan dari kesulitan dan kesusahan. Kematangan emosi ditandai dengan bagaimana konflik dipecahkan, bagaimana kesulitan ditangani. Orang yang sudah dewasa memandanng kesulitan-kesulitannya bukan sebagai malapetaka, tetapi sebagai tantangan-tantangan.
Apa sih kedewasaan/kematangan itu?
Menurut kamus Webster, adalah suatu keadaan maju bergerak ke arah kesempurnaan. Definisi ini tidak menyebutkan preposisi "ke" melainkan "ke arah". Ini berarti kita takkan pernah sampai pada kesempurnaan, namun kita dapat bergerak maju ke arah itu. Pergerakan maju ini uniq bagi setiap individu. Dengan demikian kematangan bukan suatu keadaan yang statis, tapi lebih merupakan suatu keadaan "menjadi" atau state of becoming. Pengertian ini menjelaskan, suatu kasus misal, mengapa seorang eksekutif bertindak sedemikian dewasa dalam pekerjaannya, namun sebagai suami dan ayah ia banyak berbuat salah. Tak ada seseorang yang sanggup bertindak dan bereaksi terhadap semua situasi dan aspek kehidupan dengan kematangan penuh seratus persen. Mereka dapat menangani banyak proble secara lebih dewasa.
Berikut ini ada beberapa kualitas atau tanda mengenai kematangan seseorang. Namun, kewajiban setiap orang adalah menumbuhkan itu di dalam dirinya sendiri, dan menjadi bagian dari dirinya sendiri. Maka, orang yang dewasa/matang adalah:
1 .Dia menerima dirinya sendiri
Eksekutif yang paling efektif adalah ia yang mempunyai pandangan atau penilaian baik terhadap kekuatan dan kelemahannya. Ia mampu melihat dan menilai dirinya secara obyektif dan realitis. Dengan demikian ia bisa memilih orang-orang yang mampu membantu mengkompensasi kelemahan dan kekurangannya. Ia pun dapat menggunakan kelebihan dan bakatnya secara efektif, dan bebas dari frustasi-frustasi yang biasa timbul karena keinginan untuk mencapai sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dalam dirinya. Orang yang dewasa mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik, dan senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik. Ia tidak berkepentingan untuk menandingin orang lain, melainkan berusaha mengembangkan dirinya sendiri. Dr. Abraham Maslow berkata, "Orang yang dewasa ingin menjadi yang terbaik sepanjang yang dapat diusahakannya. Dalam hal ini dia tidak merasa mempunyai pesaing-pesaing.
2. Menghargai Orang Lain
Eksekutif yang efektif pun bisa menerima keadaan orang lain yang berbeda-beda. Ia dikatakan dewasa jika mampu menghargai perbedaan itu, dan tidak mencoba membentuk orang lain berdasarkan citra dirinya sendiri. Ini bukan berarti bahwa orang yang matang itu berhati lemah, karena jika kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri seseorang itu sudah sedemikian mengganggu tujuan secara keseluruhan, ia tak segan memberhentikannya. Ukuran yang paling tepat dan adil dalam hubungan dengan orang lain bahwa kita menghormati orang lain, adalah ketiadaan keinginan untuk memperalat atau memanipulasi orang lain tersebut.
3 . Menerima Tanggung Jawab
Orang yang tidak dewasa akan menyesali nasib buruk mereka. Bahkan, mereka berpendapat bahwa nasib buruk itu disebabkan oleh orang lain. Sedangkan orang yang sudah dewasa malah mengenal dan menerima tanggung jawab dan pembatasan-pembatasan situasi dimana ia berbuat dan berada. Tanggung jawab adalah perasaan bahwa seseorang itu secara individu bertanggung jawab atas semua kegiatan, atau suatu dorongan untuk berbuat dan menyelesaikan apa yang harus dan patut diperbuat dan diselesaikan. Mempercayakan nasib baik pada atasan untuk memecahkan persoalan diri sendiri adalah tanda ketidakdewasaan. Rasa aman dan bahagia dicapai dengan mempunyai kepercayaan dalam tanggung jawab atas kehidupan sendiri.
4 . Percaya Pada Diri Sendiri
Seseorang yang matang menyambut dengan baik partisipasi dari orang lain, meski itu menyangkut pengambilan keputusan eksekutif, karena percaya pada dirinya sendiri. Ia memperoleh kepuasan yang mendalam dari prestasi dan hal-hal yang dilaksanakan oleh anak buahnya. Ia memperoleh perasaan bangga, bersama dengan kesadaran tanggung jawabnya, dan kesadaran bahwa anak buadanya itu tergantung pada kepemimpinannya. Sedangkan orang yang tidak dewasa justru akan merasa sakit bila ia dipindahkan dari peranan memberi perintah kepada peranan pembimbing, atau bila ia harus memberi tempat bagi bawahannya untuk tumbuh. Seseorang yang dewasa belajar memperoleh suatu perasaan kepuasaan untuk mengembangkan potensi orang lain.
5 . Sabar
Seseorang yang dewasa belajar untuk menerima kenyataan, bahwa untuk beberapa persoalan memang tidak ada penyelesaian dan pemecahan yang mudah. Dia tidak akan menelan begitu saja saran yang pertama. Dia menghargai fakta-fakta dan sabar dalam mengumpulkan informasi sebelum memberikan saran bagi suatu pemecahan masalah. Bukan saja dia sabar, tetapi juga mengetahui bahwa adalah lebih baik mempunyai lebih dari satu rencana penyelesaian.
6.Mempunyai Rasa Humor
Orang yang dewasa berpendapat bahwa tertawa itu sehat. Tetapi dia tidak akan menertawakan atau merugikan/melukai perasaan orang lain. Dia juga tidak akan tertawa jika humor itu membuat orang lain jadi tampak bodoh. Humor semestinya merupakan bagian dari emosi yang sehat, yang memunculkan senyuman hangat dan pancaran yang manis. Perasaan humor anda menyatakan sikap anda terhadap orang lain. Orang yang dewasa menggunakan humor sebagai alat melicinkan ketegangan, bukan pemukul orang lain.
Kamis, 28 Mei 2015
Rabu, 27 Mei 2015
TUGAS TIK 2.2013.01.082
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Strategi
Belajar Mengajar
Secara umum
strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan Ada empat strategi
dasar dalam belajar mengajar, yaitu:
1. Mengidentifikasi…………
2. Memilih
sistem…………..
3. Menetapkan………
B.
Klasifikasi
Strategi Belajar Mengajar
1. Konsep
Dasar…………[1].
2. Sasaran
Kegiatan………….
3. Belajar
Mengajar………………
4. Hakikat
Proses………..
5. Entering………..
a. Secara
Tradisional
b. Secara
Inovatif
6. Pola-pola
Belajar……..
a. Tipe
1
b. Tipe
2
c. Tipe
3
d. Tipe
4
1. …………….
2. ………………
3. …………………
4. …………………….
5. ………………..
Mnnnnnnnn nnnnnn nnnnnnn mdmfnmnfmd
dngdnd,nnnnnnnnnnnnn majadbjbjajbjaba ndfvdnfvdvvvvvvvvvvvvvvvvvg
Mmnvbebvv dbjanm ,m
,aaaaaaaaaaaaaaaaaaaam
Mnndma
haaaaaaaaaaaaaaa
Mmmmmmmmn ggggggggvfcfcfff mdbbbsjdkd
shdjjh sssss agaaaaaaaaaaaaaa
Amnm mcbvnbcn gdhhsddgg jdhjssssssssdh ueyrjsyenfm
xncmxcnmxnmcnmxncmmnmx
Langganan:
Postingan (Atom)